How our Beloved Prophet would complain
0 comments Posted by القيسية (Al Qaysiyya) at Monday, June 22, 2009
It is related that when Abu Talib died, the Prophet (صلى الله عليه و سلم) went out on foot to Ta’if to call its people to Islam. They rejected his call, and he walked away until he got to the shade of a tree. So, he prayed two rak’at and said:
“O Allaah, I complain to You of my weakness and my insignificance in the eyes of the people. You are the most Merciful. No matter who You have put me at the mercy of – an enemy who will be stern with me, or a friend to look after my affairs – as long as You are not Angry with me, then I don’t care. However, the relief You bring would be more comfortable for me. I seek refuge with Your Face – for which the darkness has lit up, and the affairs of this world and the next are organized – from being afflicted with Your Wrath or deserving of Your Anger. You have the right to admonish as You please, and there is no might nor power except by Allaah.”
This was related by al-Haythami in ‘Majma’ az-Zawa’id’ (6/35), and he mentioned in it that at-Tabarani related it in ‘al-Mu’jam al-Kabir’ on the authority of ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib, and that its chain of narration contains Ibn Ishaq, who is a trustworthy mudallis, with the rest of the narrators in its chain being trustworthy.
‘Alawi as-Saqqaf said in his checking of ‘Fi Dhilal al-Qur’an’ that it is hasan, and Ibrahim al-’Ali included it in ‘Sahih as-Sirah an-Nabawiyyah’ (p. 136).
Look at how even in such moments of his life, all he cared about (صلى الله عليه و سلم) was whether or not Allaah was Pleased with him.
Sahih Al - Bukhari HadithVolume 1, Book 11, Number 578: Narrated Ibn 'Umar: When the Muslims arrived at Medina, they used to assemble for the prayer, and used to guess the time for it. During those days, the practice of Adhan for the prayers had not been introduced yet. Once they discussed this problem regarding the call for prayer. Some people suggested the use of a bell like the Christians, others proposed a trumpet like the horn used by the Jews, but 'Umar was the first to suggest that a man should call (the people) for the prayer; so Allah's Apostle ordered Bilal to get up and pronounce the Adhan for prayers.
Sahih Al - Bukhari HadithVolume 1, Book 11, Number 587:
Narrated Yahya as above (586) and added: "Some of my companions told me that Hisham had said, "When the Mu'adhdhin said, "Haiya alas-sala(t) (come for the prayer)." Muawiya said, "La hawla wala quwata illa billah (There is neither might nor any power except with Allah)" and added, "We heard your Prophet Sallalahu alayhi wa salam) saying the same."
Sahih Al - Bukhari hadithVolume 1, Book 11, Number 589:
Narrated Abu Huraira: Allah's Apostle (sallalahu alayhi wa salam) said, "If the people knew the reward for pronouncing the Adhan and for standing in the first row (in congregational prayers) and found no other way to get that except by drawing lots they would draw lots, and if they knew the reward of the Zuhr prayer (in the early moments of its stated time) they would race for it (go early) and if they knew the reward of 'Isha' and Fajr (morning) prayers in congregation, they would come to offer them even if they had to crawl."
Sahih Al - Bukhari HadithVolume 7, Book 71, Number 582:
Narrated Abu Huraira: The Prophet (sallalahu alayhi wa salam) said, "There is no disease that Allah has created, except that He also has created its treatment."
Sahih Al - Bukhari HadithVolume 7, Book 71, Number 644:
Narrated 'Aisha: Whenever Allah's Apostle (sallalahu alayhi wa salam) went to bed, he used to recite Surat-al-Ikhlas, Surat-al-Falaq and Surat-an-Nas and then blow on his palms and pass them over his face and those parts of his body that his hands could reach. And when he fell ill, he used to order me to do like that for him.
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Agama adalah nasihat, itulah penggalan isi dari hadits Rasulullah saw di atas. Begitulah kedudukan agama Islam. Dalam Islam begitu banyak nasihat yang dapat kita temukan. Islam mengajarkan kepada umatnya, bagaimana cara mengambil nasihat dari alam dan segala isinya, dari sesame manusia, dari hewan, dari tumbuh-tumbuhan, dan bahkan dari benda-mati. Tidak ada sesuatupun di dunia ini, yang tidak mengandung nasihat jika dipandang dan direnungi dalam sudut Islam. Selain itu, Islam juga memberikan nasihatnya melalui kitab suci Al Quran dan Al Hadits. Islam juga menjadikan sejarah dan bukti-buktinya sebagai salah satu nasihat, yang membuat kita menjadi orang yang lebih mulia. Menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang taat, dan menjauhkan kita dari pengaruh-pengaruh iblis yang terkutuk.
Salah satu bentuk nasihat islam yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits adalah berbagai kisah Islami yang terukir sepanjang sejarah perjuangan dan perkembangan Islam, hingga saat ini. Salah satu kisah Islam yang dapat kita ambil sebagai ibroh adalah kisah nabi Adam dan Iblis yang mengajukan pertanyaan kepada Allah swt berikut ini:
Nabi Adam as bertanya kepada Allah swt, "Ya Allah, Engkau benar-benar telah menguasakannya atas aku, maka dari itu tidak mungkin aku dapat menolaknya melainkan dengan pertolongan Engkau."
Kemudian Allah swt berfirman, "Tidak akan dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan aku serahkan anak itu kepada malaikat yang selalu menjaganya."
Lalu nabi Adam as bertanya lagi kepada Allah swt, "Ya Allah, tambahkanlah lagi untukku."
Maka Allah swt pun berfirman, "Setiap kebaikan akan dapat sepuluh kali lipat."
Kemudian Nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."
Lalu Allah swt kembali berfirman, "Tidak akan aku cabut taubat dari mereka(manusia), selama nyawa-nyawa mereka masih berada dalam tubuh mereka."
Kemudian nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."
Kemudian Allah berfirman lagi, "Aku akan mengampuni mereka dan aku tak peduli."
Barulah setelah itu Nabi Adam as berkata, "Sekarang cukuplah untukku."
Kemudian iblis pun bertanya kepada Allah swt, "Ya Tuhanku, Engkau jadikan di kalangan anak cucu Adam beberapa utusan dan Engkau turunkan kepada mereka beberapa kitab. Oleh itu, siapakah yang akan menjadi utusan-utusanku?"
Dan Allah-pun berfirman, "Utusanmu itu ialah tukang-tukang nujum."
Iblis bertanya lagi, "Kemudian apa yang akan menjadi kitabku?"
Lalu Allah swt menjawab pertanyaan iblis dengan Firman-Nya, "Kitabmu ialah tahi lalat buatan."
Kemudian Iblis bertanya lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi haditsku?"
Lalu Allah berfirman, "Haditsmu ialah semua kata-kata dusta dan palsu."Iblis bertanya lagi, Ya Tuhanku, kemudian apakah yang menjadi quran-ku?"
Allah swt berfirman, "Quran-mu ialah nyanyian."
Kemudian Iblis bertanya lagi, "Siapakah yang menjadi muazzin-ku?"Dan Allah swt berfirman, "Seruling adalah muazzin-mu."
Lalu Iblis masih bertanya lagi, "Kemudian apakah yang akan menjadi masjidku?"
Allah swt berfirman, "Masjidmu ialah pasar."
Lalu Iblis bertanya lagi kepada Allah swt, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi rumahku?"
Kemudian, Allah swt-pun berfirman, "Rumahmu ialah bilik air tempat permandian."
Iblis bertanya lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi makananku?"
Allah swt berfirman, "Makananmu ialah semua makanan yang tidak disebut nama asmaku."
Lalu iblis bertanya lagi, "Apakah yang menjadi minumanku?"
Kemudian Allah swt berfirman, "Minumanmu ialah segala sesuatu yang memabukkan."
Kemudian, pertanyaan iblis yang terakhir adalah, "Ya Tuhanku, apakah yang akan menjadi perangkapku?"
Maka Allah swt-pun berfirman, "Perangkapmu ialah perempuan."
Mudah-mudahan dengan membaca jawaban-jawaban Allah swt atas pertanyaan nabi Adam as dan Iblis dalam artikel ini, kita bisa menjadi manusia yang senantiasa berhati-hati dalam melangkah, sehingga tidak terperosok dalam perangkap Iblis la’natullah. Amin
Truthfulness – the greatest station
0 comments Posted by القيسية (Al Qaysiyya) at Monday, June 15, 2009Ilmu angkat martabat manusia sebagai khalifah
0 comments Posted by القيسية (Al Qaysiyya) at Friday, June 12, 2009Daripada Ka’ab bin Malik, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Sesiapa yang menuntut ilmu (agama) untuk menyaingi ulama, atau berbahas dengan orang jahil, atau supaya dengan ilmu itu wajah orang ramai tertumpu kepadanya, maka Allah masukkan dia ke dalam neraka.” (Hadis riwayat al-Tirmizi dan Ibn Majah)
Kedudukan serta martabat orang berilmu diangkat dan diletakkan di tempat yang tinggi. Ilmu dapat mengangkat darjat seseorang kepada darjat yang tinggi di sisi Allah dan masyarakat. Firman Allah bermaksud: “Allah mengangkat beberapa darjat orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu pengetahuan.” (Surah al-Mujadalah, ayat 11)



