How our Beloved Prophet would complain

It is related that when Abu Talib died, the Prophet (صلى الله عليه و سلم) went out on foot to Ta’if to call its people to Islam. They rejected his call, and he walked away until he got to the shade of a tree. So, he prayed two rak’at and said:

“O Allaah, I complain to You of my weakness and my insignificance in the eyes of the people. You are the most Merciful. No matter who You have put me at the mercy of – an enemy who will be stern with me, or a friend to look after my affairs – as long as You are not Angry with me, then I don’t care. However, the relief You bring would be more comfortable for me. I seek refuge with Your Face – for which the darkness has lit up, and the affairs of this world and the next are organized – from being afflicted with Your Wrath or deserving of Your Anger. You have the right to admonish as You please, and there is no might nor power except by Allaah.”

This was related by al-Haythami in ‘Majma’ az-Zawa’id’ (6/35), and he mentioned in it that at-Tabarani related it in ‘al-Mu’jam al-Kabir’ on the authority of ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib, and that its chain of narration contains Ibn Ishaq, who is a trustworthy mudallis, with the rest of the narrators in its chain being trustworthy.

‘Alawi as-Saqqaf said in his checking of ‘Fi Dhilal al-Qur’an’ that it is hasan, and Ibrahim al-’Ali included it in ‘Sahih as-Sirah an-Nabawiyyah’ (p. 136).

Look at how even in such moments of his life, all he cared about (صلى الله عليه و سلم) was whether or not Allaah was Pleased with him.

Origins of the Adhan

Sahih Al - Bukhari HadithVolume 1, Book 11, Number 578:
Narrated Ibn 'Umar: When the Muslims arrived at Medina, they used to assemble for the prayer, and used to guess the time for it. During those days, the practice of Adhan for the prayers had not been introduced yet. Once they discussed this problem regarding the call for prayer. Some people suggested the use of a bell like the Christians, others proposed a trumpet like the horn used by the Jews, but 'Umar was the first to suggest that a man should call (the people) for the prayer; so Allah's Apostle ordered Bilal to get up and pronounce the Adhan for prayers.


Sahih Al - Bukhari HadithVolume 1, Book 11, Number 587:
Narrated Yahya as above (586) and added: "Some of my companions told me that Hisham had said, "When the Mu'adhdhin said, "Haiya alas-sala(t) (come for the prayer)." Muawiya said, "La hawla wala quwata illa billah (There is neither might nor any power except with Allah)" and added, "We heard your Prophet Sallalahu alayhi wa salam) saying the same."


Sahih Al - Bukhari hadithVolume 1, Book 11, Number 589:
Narrated Abu Huraira: Allah's Apostle (sallalahu alayhi wa salam) said, "If the people knew the reward for pronouncing the Adhan and for standing in the first row (in congregational prayers) and found no other way to get that except by drawing lots they would draw lots, and if they knew the reward of the Zuhr prayer (in the early moments of its stated time) they would race for it (go early) and if they knew the reward of 'Isha' and Fajr (morning) prayers in congregation, they would come to offer them even if they had to crawl."


Sahih Al - Bukhari HadithVolume 7, Book 71, Number 582:
Narrated Abu Huraira: The Prophet (sallalahu alayhi wa salam) said, "There is no disease that Allah has created, except that He also has created its treatment."


Sahih Al - Bukhari HadithVolume 7, Book 71, Number 644:
Narrated 'Aisha: Whenever Allah's Apostle (sallalahu alayhi wa salam) went to bed, he used to recite Surat-al-Ikhlas, Surat-al-Falaq and Surat-an-Nas and then blow on his palms and pass them over his face and those parts of his body that his hands could reach. And when he fell ill, he used to order me to do like that for him.

Jawaban Allah


عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Agama adalah nasihat, itulah penggalan isi dari hadits Rasulullah saw di atas. Begitulah kedudukan agama Islam. Dalam Islam begitu banyak nasihat yang dapat kita temukan. Islam mengajarkan kepada umatnya, bagaimana cara mengambil nasihat dari alam dan segala isinya, dari sesame manusia, dari hewan, dari tumbuh-tumbuhan, dan bahkan dari benda-mati. Tidak ada sesuatupun di dunia ini, yang tidak mengandung nasihat jika dipandang dan direnungi dalam sudut Islam. Selain itu, Islam juga memberikan nasihatnya melalui kitab suci Al Quran dan Al Hadits. Islam juga menjadikan sejarah dan bukti-buktinya sebagai salah satu nasihat, yang membuat kita menjadi orang yang lebih mulia. Menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang taat, dan menjauhkan kita dari pengaruh-pengaruh iblis yang terkutuk.

Salah satu bentuk nasihat islam yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits adalah berbagai kisah Islami yang terukir sepanjang sejarah perjuangan dan perkembangan Islam, hingga saat ini. Salah satu kisah Islam yang dapat kita ambil sebagai ibroh adalah kisah nabi Adam dan Iblis yang mengajukan pertanyaan kepada Allah swt berikut ini:

Nabi Adam as bertanya kepada Allah swt, "Ya Allah, Engkau benar-benar telah menguasakannya atas aku, maka dari itu tidak mungkin aku dapat menolaknya melainkan dengan pertolongan Engkau."

Kemudian Allah swt berfirman, "Tidak akan dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan aku serahkan anak itu kepada malaikat yang selalu menjaganya."

Lalu nabi Adam as bertanya lagi kepada Allah swt, "Ya Allah, tambahkanlah lagi untukku."

Maka Allah swt pun berfirman, "Setiap kebaikan akan dapat sepuluh kali lipat."

Kemudian Nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."

Lalu Allah swt kembali berfirman, "Tidak akan aku cabut taubat dari mereka(manusia), selama nyawa-nyawa mereka masih berada dalam tubuh mereka."

Kemudian nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."

Kemudian Allah berfirman lagi, "Aku akan mengampuni mereka dan aku tak peduli."

Barulah setelah itu Nabi Adam as berkata, "Sekarang cukuplah untukku."

Kemudian iblis pun bertanya kepada Allah swt, "Ya Tuhanku, Engkau jadikan di kalangan anak cucu Adam beberapa utusan dan Engkau turunkan kepada mereka beberapa kitab. Oleh itu, siapakah yang akan menjadi utusan-utusanku?"

Dan Allah-pun berfirman, "Utusanmu itu ialah tukang-tukang nujum."

Iblis bertanya lagi, "Kemudian apa yang akan menjadi kitabku?"

Lalu Allah swt menjawab pertanyaan iblis dengan Firman-Nya, "Kitabmu ialah tahi lalat buatan."

Kemudian Iblis bertanya lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi haditsku?"

Lalu Allah berfirman, "Haditsmu ialah semua kata-kata dusta dan palsu."Iblis bertanya lagi, Ya Tuhanku, kemudian apakah yang menjadi quran-ku?"

Allah swt berfirman, "Quran-mu ialah nyanyian."

Kemudian Iblis bertanya lagi, "Siapakah yang menjadi muazzin-ku?"Dan Allah swt berfirman, "Seruling adalah muazzin-mu."

Lalu Iblis masih bertanya lagi, "Kemudian apakah yang akan menjadi masjidku?"

Allah swt berfirman, "Masjidmu ialah pasar."

Lalu Iblis bertanya lagi kepada Allah swt, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi rumahku?"

Kemudian, Allah swt-pun berfirman, "Rumahmu ialah bilik air tempat permandian."

Iblis bertanya lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi makananku?"

Allah swt berfirman, "Makananmu ialah semua makanan yang tidak disebut nama asmaku."

Lalu iblis bertanya lagi, "Apakah yang menjadi minumanku?"

Kemudian Allah swt berfirman, "Minumanmu ialah segala sesuatu yang memabukkan."

Kemudian, pertanyaan iblis yang terakhir adalah, "Ya Tuhanku, apakah yang akan menjadi perangkapku?"

Maka Allah swt-pun berfirman, "Perangkapmu ialah perempuan."

Mudah-mudahan dengan membaca jawaban-jawaban Allah swt atas pertanyaan nabi Adam as dan Iblis dalam artikel ini, kita bisa menjadi manusia yang senantiasa berhati-hati dalam melangkah, sehingga tidak terperosok dalam perangkap Iblis la’natullah. Amin

Lowering the gaze


Sahih Al - Bukhari HadithVolume 8, Book 74, Number 247:

Narrated 'Abdullah bin 'Abbas: Al-Fadl bin 'Abbas rode behind the Prophet (sallalahu alayhi wa salam) as his companion rider on the back portion of his she camel on the Day of Nahr (slaughtering of sacrifice, 10th Dhul-Hijja) and Al-Fadl was a handsome man. The Prophet stopped to give the people verdicts. In the meantime, a beautiful woman From the tribe of Khath'am came, asking the verdict of Allah's Apostle. Al-Fadl started looking at her as her beauty attracted him. The Prophet looked behind while Al-Fadl was looking at her; so the Prophet held out his hand backwards and caught the chin of Al-Fadl and turned his face (to the owner sides in order that he should not gaze at her. She said, "O Allah's Apostle! The obligation of Performing Hajj enjoined by Allah on His worshipers, has become due (compulsory) on my father who is an old man and who cannot sit firmly on the riding animal. Will it be sufficient that I perform Hajj on his behalf?" He said, "Yes."


Sahih Al - Bukhari hadithVolume 8, Book 74, Number 248:

Narrated Abu Said Al-Khudri: The Prophet (sallalahu alayhi wa salam) said, 'Beware! Avoid sitting on the roads." They (the people) said, "O Allah s Apostle! We can't help sitting (on the roads) as these are (our places) here we have talks." The Prophet said, ' l f you refuse but to sit, then pay the road its right ' They said, "What is the right of the road, O Allah's Apostle?" He said, 'Lowering your gaze, refraining from harming others, returning greeting, and enjoining what is good, and forbidding what is evil."


Volume 8, Book 74, Number 249: Narrated 'Abdullah:

When we prayed with the Prophet (sallalahu alayhi wa salam) we used to say: As-Salam be on Allah from His worshipers, As-Salam be on Gabriel, As-Salam be on Michael, As-Salam be on so-and-so. When the Prophet finished his prayer, he faced us and said, "Allah Himself is As-Salam (Peace), so when one sits in the prayer, one should say, 'At-Tahiyatu-lillahi Was-Salawatu, Wat-Taiyibatu, As-Salamu 'Alaika aiyuhan-Nabiyyu wa Rah-matul-lahi wa Barakatuhu, As-Salamu 'Alaina wa 'ala 'Ibadillahi assalihin, for if he says so, then it will be for all the pious slave of Allah in the Heavens and the Earth. (Then he should say), 'Ash-hadu an la ilaha illalllahu wa ash-hadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasulu-hu,' and then he can choose whatever speech (i.e. invocation) he wishes " (See Hadith No. 797, Vol. 1)


Truthfulness – the greatest station



“….It is the foundation of the building of Islam, the central pillar of the edifice of certainty and the next in level in ranking after the level of the prophet hood” A man, was walking in the state of Janaabah, and he saw Muhammad S.A.W. and he quickly ran away, to go and purify himself. He then met Muhammad S.A.W. and the Rasool S.A.W. asked him why did he go away when he saw him? He explained that he was in the state of Janaabah and did not want to meet him being impure. Muhammad S.A.W. informed him that the muslim is never impure. The man, Abu Hurrairah R.A. was truthful in what he felt, what he did, what he replied and Muhammad S.A.W. as always, spoke a straight word.

Allah SWT gives us glimpse of a result: “That Allah may reward the truthful for their truth, and punish the hypocrites if He wills, or turn mercifully towards them..” Al-Ahzaab: 64As-Sidq is the truth that permits neither falsehood nor hypocrisy. It is truthfulness that negates hypocrisy. It is truthfulness in all aspects of ones life which contradicts dishonesty, lies and false speech. It is As-Sidq in public and private. It is truthfulness to Allah SWT and His creation. It is truthfulness not only in speech, but also in our actions and in our belief.

Alif Lam Mim. Do people think that they will be left alone because they say: “We Believe”, and will not be tested. And we indeed tested those who were before them. And Allah will certainly make (it) known (the truth of) those who are true, and will certainly make (it) known (the falsehood of) those who are liars, (although Allah knows all that before putting them to test).” [Al-Ankabut 29:1-3] It was narrated by Mu’adh ibn Jabal (رضي الله عنه ) that Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم ) said: “There is none who testifies truthfully from his heart that there is no deity worthy of worship except Allah and Muhammad (صلى الله عليه و سلم ) is His abd (His worshipper) and Messenger, except that Allah will save him from Hell-Fire.” [Reported by Al-Bukhari]

Similar words that correspond to Truthfulness in the English language are honest, trustworthy; candid, frank. SubhanAllah, if we can understand what is the status of truthfulness, perhaps we may realize that if you have it, you need to hold on, if you do not have it, then what do you think you have to do, to try and acquire it bi’idhnillah? The status is very high, listen to Allah SWT“..Such are together with those who Allah has blessed: the prophets, the truthful, the martyrs, and the righteous. What an excellent company such people are”

It was reported by Al-Bukhari and Muslim that Anas (رضي الله عنه ) narrated from Mu'adh (رضي الله عنه ), the text of which states in Al-Bukhari that the Prophet (صلى الله عليه و سلم ), when Mu'adh (رضي الله عنه ) was alongside him as a companion rider, said: “O Mu'adh ibn Jabal, “Mu'adh replied: “Labbaik, O Messenger of Allah and Sa’daik.” The Prophet (صلى الله عليه و سلم ) said: O Mu'adh! he replied: ‘Labbaik, O Messenger of Allah and Sa’daik’, three times. The Prophet (صلى الله عليه و سلم ) said: “There is none who testifies truthfully from his heart, that there is no deity worthy of worship except Allah and that Muhammad is the Messenger of Allah, except that Allah will save him from the Hell-Fire”. (Mu'adh) asked: “O Messenger of Allah, should I not inform the people about it so that they may have glad tidings?” The Prophet (صلى الله عليه و سلم ) replied: “When the people hear about it they will solely depend upon it.” Mu'adh (رضي الله عنه ) narrated this Hadith just before his death- fearing that he may be committing a sin by withholding knowledge from the people.

Imaan and Nifaaq cannot exist together, except that one will eventually over take the other. Imaan is based on truthfulness, while nifaaq is based on dishonesty. A man can be performing salat and fasting, yet he only wants to implement one part of the shariah and not the rest – he follows hypocrisy instead of true imaan.

A man abandons divine laws, even though he hears the words of Allah SWT being recited, he hears sincere and true advice given to him, yet he ignores it and deliberately turns away, neglects it, desiring other than it – what truth is there in his faith? “None of you truly believes until his desire is in accordance with what I brought” NawawiSo lets try to be truthful.

Truthful to Allah SWT as Allah SWT informs us: “This day on which the truthful will profit from their truth. They shall have gardens underneath which rivers flow to live therein forever. Allah is well pleased with them and they are pleased with Him. This is supreme success.” So lets try to be truthful. Truthful to Muhammad S.A.W. by fulfilling all that the shahaadahtain requires of us for there is a time when Muhammad S.A.W. will come to the kauthar and the angels will stop some people, and after Muhammad S.A.W. identifies them as part of His Ummah, then he will be told, ‘you do not know what they did after you died’.

So lets be truthful to our fellow muslims, not only in advising and helping but also in criticizing and preventing. “Guarantee me six and I will guarantee you Paradise: be truthful when you speak, fulfill your promises, carry out what you are entrusted with, safeguard your private parts, lower your gaze and restrain your hands.” Ibn Hibban – Ubadah bin Samit.This includes in business: “Two parties in trade are free [to accept or reject the commodity], so long as they do not part. If they are truthful and clarify, their transaction will be blessed, but if they lie and conceal, the blessings of their transaction will be eradicated” Bukhari and muslim

COMPANY: “O you who believe! Have Taqwa of Allah and be with the truthful” Take you your week, and break it down, into days and hours. How many hours do you spend with other people? Of those no. of hours, who are these people? Are they amongst the truthful?

UPHOLD TRUTHFUL SPEECH, KEEP PROMISES AND FULFILL TRUSTS: “The signs of the hypocrite are three: when he speaks he lies, when he makes an oath he breaks it and when is entrusted with something he betrays that trust.” Speak if you going to speak the truth, otherwise better to be silent. Give your word, if you know you able to fulfill it or will do your very best. Do your utmost best to fulfill trust given to you.

SPEECH AND ENTERTAINMENT WITH TRUTH: Do not lie, do not lie, do not lie, not even in joking. Not even to lighten up the atmosphere: “Woe to the person who lies to make people laugh, woe to him, woe to him” ….”I guarantee a house in the middle of Paradise for the one who leaves of lying even if it is in jest” Tirmidhi Always remember that this does not mean that one cannot be light hearted, pleasant and enjoy a good laugh. “A servant will not attain the clarity of faith, until he leaves of jest, lying and arguing even he is on the right” Aby Ya’la – Umar

STRIVE TO BE TRUTHFUL, MAYBE ALLAH WILL ACCEPT AND MAKE YOU SUCH: “Truthfulness leads to righteousness and righteousness leads to paradise, a person remains truthful until he is written as a Siddiq with Allah. Lying leads to wickedness and wickedness leads to the Fire, a person keeps lying until he is written as a Khaddhab with Allah”


ISLAM menjadikan ilmu pengetahuan penggerak utama mencapai maksud merubah kehidupan ke arah lebih baik. Ilmu diangkat ke tahap paling tinggi kerana tanpa ilmu pengetahuan, segala kegiatan akan menemui kegagalan dan tidak sampai kepada matlamat sebenar, iaitu mencari keredaan Allah.


Menurut Islam, ilmu pengetahuan adalah ukur tara yang jelas bagi membezakan antara seseorang dengan yang lain. Ini dijelaskan melalui firman Allah bermaksud: “Katakanlah, adakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui.” (Surah Az-Zumar, ayat 9)


Selain itu, ilmu pengetahuan juga alat bagi mencapai tahap keimanan sempurna dan pengukur ketakwaan seseorang kepada penciptanya. Ilmu dan iman tidak dapat dipisahkan. Kedua-duanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.


Seseorang Muslim dinilai dari segi ilmu, iman serta amalannya bagi mengukur sejauh mana ketakwaannya kepada Allah. Ia bukan dinilai dari segi keturunan, kedudukan, bangsa, kekayaan, rupa dan warna kulit. Allah meletakkan orang beriman dan berilmu ke tahap paling tinggi, seperti ditegaskan Allah dalam firmannya bermaksud: “Allah akan meninggikan orang yang beriman antara kamu dan orang yang diberikan ilmu pengetahuan beberapa darjat.” (Surah Al-Mujadalah, ayat 11)


Ilmu dapat meninggikan dan membezakan taraf di kalangan manusia. Firman Allah bermaksud: “Katakanlah adakah sama orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya mereka yang mendapat peringatan dan petunjuk hanyalah di kalangan hambanya yang berilmu dan bijaksana.” (Surah al-Zumar, ayat 9)


Daripada Ka’ab bin Malik, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Sesiapa yang menuntut ilmu (agama) untuk menyaingi ulama, atau berbahas dengan orang jahil, atau supaya dengan ilmu itu wajah orang ramai tertumpu kepadanya, maka Allah masukkan dia ke dalam neraka.” (Hadis riwayat al-Tirmizi dan Ibn Majah)


Ilmu agama atau ilmu yang ada dalam al-Quran dan sunnah akan menjadi benteng mencegah seseorang daripada melakukan perkara dilarang syariat, dapat menolak kejahilan dan kebodohan sama ada dalam perkara agama atau mengejar kebendaan duniawi.


Pelbagai jenis ilmu keduniaan seperti kejuruteraan, kedoktoran, pertanian dan sebagainya dapat membantu kesejahteraan hidup manusia di dunia. Penekanan terhadap kepentingan dan keperluan menuntut ilmu membuktikan Islam memartabatkan ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu. Baginda Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Menuntut ilmu itu adalah wajib ke atas tiap-tiap orang Islam lelaki dan perempuan.” (Hadis riwayat Ibn 'Adiyy, Al-Bayhaqi dan Al-Tabarani)


Kedudukan serta martabat orang berilmu diangkat dan diletakkan di tempat yang tinggi. Ilmu dapat mengangkat darjat seseorang kepada darjat yang tinggi di sisi Allah dan masyarakat. Firman Allah bermaksud: “Allah mengangkat beberapa darjat orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu pengetahuan.” (Surah al-Mujadalah, ayat 11)


Ilmu pengetahuan akan membawa manusia ke arah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, memberi kekuatan ketika dalam kesusahan dan berhadapan dengan musuh. Dengan ilmu, manusia dapat menjalankan ibadah secara sempurna serta melaksanakan peranan sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan sebaiknya.


Di Malaysia, sumber ilmu melalui penghasilan buku sangat sedikit. Hasil kajian profil membaca Malaysia oleh Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) pada 1996 mendapati hanya 10,310 judul buku dalam pelbagai bidang didaftarkan setahun, berbanding 180,000 judul di China, 116,000 judul di United Kingdom, 60,000 judul di Amerika Syarikat dan 45,000 judul di India. Daripada 10,310 judul buku berdaftar setahun yang dihasilkan perangkaan PNM itu, hanya 1,273 atau 32 peratus saja buku ilmiah dikategorikan boleh meningkatkan minda, inovasi dan keilmuan kepada pembaca. Yang lain adalah bahan bacaan santai di samping buku teks akademik dan kanak-kanak.


Rasulullah SAW mengajarkan sahabat untuk selalu berlindung daripada sifat malas. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga.” (Hadis riwayat Muslim)


Sebenarnya, ilmu yang ada pada kita amat sedikit. Alangkah sayangnya jika ilmu yang sedikit dikurniakan Allah gagal untuk dimanfaatkan bagi tujuan agama dan ummah. Allah berfirman bermaksud: “Katakanlah wahai Muhammad, kalaulah semua jenis lautan menjadi tinta untuk menulis kalimah Tuhanku, sudah tentu akan habis kering lautan itu sebelum habis kalimah Tuhanku, walaupun kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya sebagai bantuan.” (Surah Al-Kahfi, ayat 109)


Justeru, kajian yang dibuat adalah bertujuan untuk mencari ilmu, bukan untuk bersaing dengan ilmuwan yang ada, bukan berbahas demi memperoleh kemenangan dan bukan untuk menjadi masyhur. Ia ditulis hanyalah untuk mencari keredaan Allah semata-mata. Satu peringatan keras daripada Rasulullah SAW, dilaporkan daripada Abu Hurairah, sabda Baginda SAW bermaksud: “Sesiapa yang mempelajari sesuatu ilmu yang dengannya dicari reda Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan habuan dunia, maka dia tidak akan mendapat bau syurga pada hari kiamat.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibn Majah)


Niat menuntut ilmu juga penting kerana jika tujuan mendalami sesuatu bidang tidak bagi mencapai keredaan Allah, maka rugi di dunia apatah lagi di akhirat. Saidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Ilmu diiringi dengan perbuatan. Barang siapa berilmu maka dia harus berbuat. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya, maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya.” Seharusnya ketika ini kita sudah bersedia untuk memecahkan gumpalan pemikiran lama yang menjadikan tesis dan bahan kajian sekadar menjadi simbol kebanggaan yang langsung tidak dimanfaatkan.


Alangkah baiknya jika semua analisis dan kajian dibuat dapat diterjemahkan untuk tujuan pelaksanaan demi kepentingan dan pembangunan ummah. Tidak bolehkah kajian itu diwakafkan demi kepentingan tamadun ummah. Memecahkan gumpalan pemikiran yang sudah berabad itu memang tidak mudah. Tetapi itulah agenda besar yang harus dilaksanakan jika ingin mengembalikan dinamik Islam ke arah berdaya saing.


Sudah lama kita dilihat lemah dan tidak berkeupayaan untuk membuktikan Islam adalah pelopor serta menjadi paksi kemajuan dunia. Ingatlah, buku adalah gudangnya ilmu dan membaca itu adalah kuncinya. Diriwayatkan, Rasulullah SAW ada memberitahu kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu dari solat seratus rakaat. Dan, pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan, dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari solat seribu rakaat.” ( Hadis riwayat Ibnu Majah)