ADAT DALAM ISLAM

Dalam ushul fiqih terdapat sebuah kaidah asasi al-‘adat muhakkamat (=adat dapat dihukumkan) atau al-‘adat syari’at muhakkamat (=adat merupakan syariat yang dihukumkan). Kaidah tersebut kurang lebih bermakana bahwa adat (tradisi) merupakan variabel sosial yang mempunyai otoritas hukum (hukum Islam). Adat bisa mempengaruhi materi hukum , secara proporsional. Hukum Islam tidak memposisikan adat sebagai faktor eksternal non-implikatif, namun sebaliknya, memberikan ruang akomodasi bagi adat. Kenyataan sedemikian inilah antara lain yang menyebabkan hukum Islam bersifat fleksibel.

Dalam bahasa Arab, al-‘adat sering pula dipadankan dengan al-‘urf. Dari kata terakhir itulah, kata al-ma’ruf – yang sering disebut dalam Al-Qur’an – diderivasikan. Oleh karena itu, makna asli al-ma’ruf ialah segala sesuatu yang sesuai dengan adat (kepantasan). Kepantasan ini merupakan hasil penilaian hati nurani. Mengenai hati nurani, Rasulullah pernah memberikan tuntunan agar manusia bertanya kepada hati nuraninya ketika dihadapkan pada suatu persoalan (mengenai baik dan tidak baik). Beliau juga pernah menyatakan bahwa keburukan atau dosa ialah sesuatu yang membuat hati nurani menjadi gundah (tidak sreg).

Dalam perkembangannya, al-‘urf kemudian secara general digunakan dengan makna tradisi, yang tentu saja meliputi tradisi baik (al-urf al-shahih) dan tradisi buruk (al-‘urf al-fasid). Dalam konteks ini, tentu saja al-ma’ruf bermakna segala sesuatu yang sesuai dengan tradisi yang baik. Arti “baik” disini adalah sesuai dengan tuntunan wahyu.

Amr bi al-ma’ruf berarti memerintahkan sesama manusia untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang pantas menurut suatu masyarakat, yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai wahyu.

Nilai-nilai yang pantas menurut suatu masyarakat merupakan manifestasi hati-hati nurani masyarakat tersebut dalam konteks kondisi lingkungan yang melingkupi masyarakat tersebut. Kondisi lingkungan yang berbeda pada masyarakat yang berbeda akan menyebabkan variasi pada nilai-nilai kepantasan yang dianut. Karena itu, tradisi pada suatu masyarakat bisa berbeda dengan tradisi pada masyarakat yang lain.

Sebagai sebuah contoh, apabila Al-Qur’an menyatakan “wa ‘asyiru hunna bi al-ma’ruf (=Dan pergaulilah isteri-isteri kalian secara ma’ruf)” maka yang dimaksud adalah tuntutan kepada para suami untuk memperlakukan isteri-isteri mereka sesuai dengan nilai-nilai kepantasan yang berlaku dalam masyarakat, yang mana nilai-nilai itu bisa jadi berbeda dengan yang ada pada masyarakat lainnya. Namun perlu diingat bahwa nilai-nilai kepantasan itu tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi).

Karakter hukum Islam yang akomodatif terhadap adat (tradisi) amat bersesuaian dengan fungsi Islam sebagai agama universal (untuk seluruh dunia). “Wajah” Islam pada berbagai masyarakat dunia tidaklah harus sama (monolitik). Namun, keberagaman tersebut tetaplah dilingkupi oleh wihdat al-manhaj (kesatuan manhaj) yaitu al-manhaj al-Nabawiy al-Muhammadiy.

Berangkat dari kesadaran “Bhinneka Tunggal Ika” inilah, Islam tidaklah harus disamakan dengan Arab. Islam merupakan sebuah manhaj yang bersifat universal, yang tidak bisa dibatasi oleh ke-Arab-an semata (Namun perlu diingat bahwa Arab [terutama bahasa Arab] dalam beberapa hal memang mempunyai posisi strategis dalam Islam).

Namun, harus disadari pula bahwa Islam diturunkan kepada Muhammad saw, seorang Arab, ditengah-tengah bangsa Arab. Implikasinya, Nabi tidak akan bisa lepas dari konteks/lingkungan Arab. Hal ini nantinya juga akan berpengaruh pada pewahyuan, baik Al-Qur’an maupun Al-Sunnah (sebagaimana dikatakan oleh para ushuliyyun dan mutakallimun bahwa perkataan [yang bukan Al-Qur’an] dan perbuatan Nabi merupakan “wahyu” karena Nabi senantiasa mendapat penjagaan dan ilham dari Allah).

Sebagai contoh, Al-Qur’an mau tidak mau mesti diturunkan dalam bahasa Arab agar bisa dipahami oleh komunitas dimana Al-Qur’an diturunkan. Demikian juga perkataan Nabi, mesti dinyatakan dalam bahasa Arab. Demikian pula penyebutan nama-nama benda dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, tidaklah akan keluar dari perbendaharaan yang bisa dipahami oleh masyarakat Arab saat itu. Kalaupun ada istilah yang tidak dimengerti, maka para sahabat mesti langsung menanyakannya kepada Nabi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bentuk-bentuk tasyri’ yang melibatkan nama-nama benda, haruslah dilakukan secara esensial, lepas dari kungkungan bahasa, tempat, dan zaman. Sebuah contoh, tatkala Nabi memberitakan bahwa habbat al-sauda’ (jintan hitam) merupakan suatu obat yang mujarab bagi penyakit tertentu, maka itu tidak berarti bahwa tidak ada obat lain yang juga bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Adalah sangat mungkin akan ada berpuluh-puluh obat yang bisa berfungsi seperti habbat al-sauda’. Esensi dari berita Nabi tentang habbat al-sauda’ adalah zat yang dikandung oleh habbat al-sauda’, yang bisa menyembuhkan penyakit tertentu, dan zat tersebut bisa juga terdapat pada benda lain. Atau barangkali esensinya lebih luas dari itu, yakni perintah Nabi agar umatnya giat melakukan riset di bidang farmasi untuk menemukan berbagai benda di alam ini, yang berkhasiat untuk mengobati penyakit. Namun pola pemahaman esensial ini tidak boleh sampai kepada interpretasi bahwa, misalnya, habbat al-sauda’ tidak lagi efektif untuk obat, karena Nabi sudah jelas-jelas mengatakan efektivitasnya. Jadi, interpretasi boleh meluas (berangkat dari teks) namun tidak boleh membatalkan teks itu sendiri (karena justeru teks itulah titik tolak interpretasi).

Demikian pula tradisi (sunnah) Nabi secara umum, haruslah dipahami secara esensial. Hal ini tidak lain karena Islam merupakan agama universal dan berlaku selamanya. Dengan pemahaman esensial, syariat akan dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, sampai ke relung-relungnya yang terkecil sekalipun. Pemahaman esensial juga akan menjadi “mimpi buruk (nightmare)” bagi orang-orang yang hendak melakukan hilat (intrik, manipulasi) terhadap syariat, dengan bertameng pada teks.

Adaptasi syariat terhadap adat juga bisa diamati pada materi wahyu. Imam Al-Syathibi dalam Al-Muwafaqat menerangkan bahwa akibat ke-ummi-an bangsa Arab maka wahyu (yang berarti juga syariat) pun bersifat ummi. Maksudnya, wahyu turun dengan tingkat kompleksitas yang sesuai dengan tingkat berpikir bangsa Arab saat itu. Wahyu tidak dituntut untuk dipahami secara njelimet melebihi kemampuan berpikir bangsa Arab saat itu. Meskipun begitu, justeru generasi saat itulah yang merupakan generasi terbaik dalam pemahamannya terhadap wahyu.


MARI MENGIKUT DAN MENGAMAL SUNNAH



Hari Jumaat adalah hari mulia, penuh barakah dan merupakan penghulu segala hari. Tepat pada saat dan waktunya, marilah kita bersama-sama dengan penuh khusyuk, ikhlas, tawaduk dan penuh insaf dengan menjadikan hari mulia ini hari menggilap semula serta meningkatkan lagi taqwa dan iman kita kepada Allah S.W.T dengan melaksanakan apa yang diperintah-Nya, kemudian dalam masa yang sama berusaha dengan tekad meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Mudah-mudahan hidup kita akan lebih diberkati dan berbahagia di dunia dan juga di akhirat.


Maulidur Rasul s.a.w. atau Hari Keputeraan Baginda Nabi s.a.w. dan peribadi Baginda Nabi s.a.w. adalah tersangat akrab dengan jantung hati atau kehidupan umat Islam. Malah setiap tahun hari bersejarah ini disambut oleh umat Islam di seluruh dunia. Kenapa dan mengapa umat Islam menyambut serta mengingati tarikh itu, 12 Rabiulawal, Tahun Gajah bersamaan hari Isnin. Apakah sekadar mahu memperingati tarikh itu semata-mata. Sebagai umat Islam yang beriman, jawapan paling tepat ialah kita peringati dan sambut Hari Keputeraan Baginda Nabi s.a.w. adalah untuk mengembalikan kesedaran dan juga cinta kita kepada Baginda Nabi s.a.w. dengan cara mengikut serta mengamalkan sunnah-sunnahnya.

Firman Allah SWT yang bermaksud:

"...Dan apa jua yang diperintah yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w.) kepada kamu maka terimalah dan amalkanlah, dan apa jua yang dilarang-Nya kamu melakukannya maka patuhilah larangan-Nya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amatlah berat azab siksa-Nya (bagi orang-orang yang melanggar perintah-Nya)".

(S. Al-Hasyr: 7)



Sunnah Rasulullah s.a.w. bukan sekadar kahwin atau beristeri 2, 3 dan 4 atau berpoligami yang diperdebatkan oleh masyarakat mutakhir ini. Bukan juga semata-mata sunnah pada pakaian, sementara kita mengabaikan atau melupakan sunnah yang lebih utama, iaitu; sunnah-sunnah dalam melaksanakan perintah agama yang wajib. Seperti memelihara amanah dan adil dalam poligami, menutup 'aurat, melakukan amar makruf wa nahyi mungkar dan lain-lain. Padahal, sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. yang mesti diikut dan diamalkan oleh umat Islam masih banyak dilupakan, malah seperti sengaja disembunyikan atau tidak dibesar-besarkan sebagaimana masyarakat membesarkan sunnah berkahwin lebih dari seorang isteri. Kerana itu, umat Islam adalah tidak wajar menyempitkan makna dan skop sunnah yang sebenar. Sunnah Rasulullah s.a.w. itu mencakup perbuatan, kata-kata, Hadith hatta diamnya. Ini bermakna, sunnah Rasulullah s.a.w. itu terlalu luas dan merangkumi segala macam urusan atau hal-hal kehidupan manusia telahpun ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah s.a.w.


Oleh itu, umat Islam hendaklah mengikut dan mengamalkan sunnah Rasulullah s.a.w. dalam segala perkara kehidupan, dari hal-hal tentang mengurus atau mentadbir negara dengan amanah, tuntutan sunnah dalam berniaga, sunnah berpolitik, sunnah dalam mendidik anak isteri dan masyarakat. Sunnah Rasulullah s.a.w. dalam bergaul dengan masyarakat sesama umat Islam dan dengan masyarakat bukan Islam. Sunnah Rasulullah s.a.w. dalam kepimpinan. Sunnah dalam akhlak, sikap adil, amanah, cara beramal ibadat, berumahtangga, membantu isteri, menghormati orang, mengasihani orang muda, anak-anak dan sebagainya. Semua itu adalah sunnah yang ditunjuk, dibuat, dicatatkan dalam Hadith-hadith Baginda Rasulullah s.a.w.


Dan sebagai umat Islam yang beriman, inilah sebenarnya yang perlu kita contohi dalam semua perkara yang dibuat oleh Rasulullah s.a.w. dari awal hingga ke akhir hayat Baginda. Manakala panduan atau rujukan untuk umat Islam mengikut dan mengamalkan sunnah ialah kitab al-Quran dan Sunnah atau Hadith-hadith Rasulullah s.a.w. itu sendiri. Selain itu, panduan umat Islam mengikut dan mengamal sunnah Rasulullah s.a.w. ialah dengan mengikut kehidupan para ulama warasatul-anbiya Ridhwanullahi 'alaihim, yakni mereka yang benar-benar beramal dengan penuh ikhlas segala sunnah Rasulullah s.a.w. secara istiqamah sama ada dalam waktu aman atau ketika umat Islam dilanda dharurat. Pendek kata, ulama warasatul-anbiya adalah mereka yang taat, patuh dan istiqamah beramal, bercakap, berfikir dan bertindak dengan berdasarkan ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w., tanpa tokok tambah amalan-amalan bid’ah yang menyesatkan dirinya dan umat Islam seluruhnya. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: "Orang yang berpegang kepada sunnahku pada saat umatku dilanda kerosakan, maka pahalanya seperti seorang yang gugur syahid".


Mengamalkan sunnah Rasulullah s.a.w. itu memang suatu yang diperintahkan dalam Islam. Sunnah itu boleh dikategorikan seperti berikut:

Pertama: ialah sunnah yang wajib diikut dan diamal seperti beriman kepada Allah serta rukun-rukun iman lainnya, mengerjakan ibadat sembahyang, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, menuntut ilmu, mengajak orang berbuat yang makruf dan ke-baikan, melarang atau mencegah orang dari berbuat mungkar, mentaati ibubapa, seterusnya melaksanakan amanah sama ada amanah atau tugas sebagai ketua rumahtangga, ketua pejabat, guru, doktor, hakim, peniaga/korporat, hatta ketua kampung, apa lagi sebagai pemimpin negeri atau negara dan sebagainya.

Kedua: ialah amalan sunnah hukumnya sunat sahaja seperti memberi salam, berpuasa sunat, bersedekah sunat, berzikir, memakai pakaian berwarna putih, berserban, masuk masjid dengan doa dan kaki kanan dan lain-lain lagi.

Untuk melaksanakan semua itu. Tidak ada contoh, panduan atau model terbaik umat Islam melainkan diri Rasulullah s.a.w.. Ini berdasarkan apa yang ditegaskan dalam al-Quran. Firman Allah S.W.T.:

Yang bermaksud:"Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta dia pula berzikir (menyebut dan mengingati) Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)."

(S. Al-Ahzab: 21).

JEMAAH JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

Demikianlah, sewajarnya umat Islam menjadikan diri Rasulullah s.a.w sebagai contoh dan model terbaik dalam menjalani kehidupan kita sama ada dari sudut kehidupannya, akhlak, cara bercakap, kepimpinan, berpolitik, mentadbir, berkeluarga, pendidikan, berniaga, sosial dan sebagainya. Percaya dan yakinlah bahawa mengikut serta mengamalkan cara hidup atau sunnah Rasulullah s.a.w. itu akan memberi kita manfaat yang besar, keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: "Aku telah tinggalkan untuk kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang dengan keduanya, iaitu: Kitabullah (al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah s.a.w.".

(HR Imam Malik dan Muslim).

SUNNAH RASULULLAH

Rasulullah pernah menyarankan supaya memakan secubit garam pada awal dan akhir setiap kali minum dan makan. Baginda berkata "Sesiapa yang memulakan minum dan makan dengan memakan secubit garam ALLAH akan hindarkan 330 jenis penyakit, yang paling kurang ialah gila kusta, sakit perut dan sakit gigi. Yang bakinya diketahui oleh ALLAH sahaja".

Dengan mengambil secubit garam dan segelas air tubuh kita akan mencuci dengan sendirinya secara kesulurahan, sel-sel badan akan dikembalikan, semua proses kehidupan akan diharmonikan, disusun dan dikuatkan semula: dan banyak penyakit moden akan lenyap dalam masa itu dan dengan itu kehidupan kita akan menjadi lebih baik dan sihat.

Hadis riwayat Al-Baghawiy dalam tafsirnya, dari Anas bin Malik, Nabi bersabda "Penghulu segala lauk pauk kamu adalah garam".

Hadis riwayat Ibnu Majah, "Tiadalah akan baik makanan itu melainkan dengan garam".

Hadis riwayat Al-Bazzar, "Garam menjadi amalan pemakanan Rasulullah SAW. Mengikut kajian pakarsains pemakanan, garam mempunyai pelbagai khasiat. Ia amat berbeza dengan garam biasa yang boleh menyebabkan penyakit darah tinggi dan sebagainya. Amalkan minum & makan dengan garam kerana ia adalah sunnah Rasulullah SAW".

Khasiat Garam:-

  • Melancarkan sistem penghadaman.
  • Meneutralkan asid-asid berlebihan / toksin / angin.
  • Merangsang keseimbangan metabolisme badan.
  • Mengimbangi selera makan.
  • Membantu mengatasi masalah saraf dan kekejangan otot.
  • Mengelakkan keracunan makanan.
  • Gastrik, sembelit, cirit-birit, sakit tekak, gangguan suara, keletihan, kelesuan, rasa mengantuk dan daya kensentrasi.
Cara-Cara Menggunakan Air + Garam:-

Ambil secalit garam menggunakan jari manis dari bekasnya, letak diatas lidah dan minum air. Amalkan sebelum dan selepas minum dan makan.

*Insha'Allah akan dapat menghidari 330 jenis penyakit, kusta, gila, sakit gigi, keracunan, sakit kepala, melancarkan sistem penghadaman secara semulajadi dan selebihnya hanya ALLAH SWT yang mengetahui ( cara perubatan Rasulullah SAW).

GOD CREATION

Question:

At one place the Qur’an mentions that man is created from sperm and in another place it mentions that man is created from dust. Are these two verses not contradicting? How can you scientifically prove that man is created from dust?

Answer:
1. Man created from sperm and dust

The Qur’an refers to the lowly beginnings of a human being from a drop of sperm, in several verses including the following verse from Surah Al-Qiyamah:

"Was he not a drop of sperm emitted (in lowly form)"?
[Al-Qur’an 75:37]

The Qur’an also mentions in several places that human beings were created from dust. The following verse makes a reference to the origin of human beings:

"(Consider) that We created you out of dust".
[Al-Qur’an 22:5]

We now know that all the elements present in the human body (i.e. the constituent elements of the human body), are all present in the earth in small or great quantities. This is the scientific explanation for the Qur’anic verse that says that man was created from dust.

In certain verses, the Qur’an says that man was created from sperm, while in certain other verses it says that man was created from dust. However this is not a contradiction. Contradiction means statements, which are opposite or conflicting and both cannot be true simultaneously.
2. Man created from water

In certain places the Qur’an also says that man was created from water. For instance in Surah Al-Furqan it says:

"It is He Who has created man from water".
[Al-Qur’an 25:54]

Science has proved all the three statements to be correct. Man has been created from sperm, dust as well as water.
3. It is not a Contradiction but a Contradistinction

Suppose I say that in order to make a cup of tea one needs water. One also needs tea-leaves or tea powder. The two statements are not contradictory since both water and tea leaves are required in order to make a cup of tea. Furthermore if I want sweet tea I can even add sugar.

Thus there is no contradiction in the Qur’an when it says that man is created from sperm, dust and water. It is not a contradiction but a contradistinction. Contradistinction means speaking about two different concepts on the same subject without conflict. For instance if I say that the man is always truthful and a habitual liar, it is a contradiction, but if I say that a man is always honest, kind and loving, then it is a contradistinction.

STORIES OF THE SAHAABAH

Hadhrat Abuzar Ghifari's (Radhiyallaho anho) Conversion to Islam


Hadhrat Abuzar Ghifari (Radhiyallaho anho) is very famous among the Sahabah for his piety and knowledge. Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) used to say:

"Abuzar is the custodian of such knowledge as other people are incapable of acquiring."

When he first got news of the Prophet's (Sallallaho alaihe wasallam) mission, he deputed his brother to go to Mecca and make investigations regarding 'the person' who claimed to be the recipient of Divine revelation. His brother returned after necessary enquiries, and informed him that he found Muhammad (Sallallaho alaihe wasallam) to be a man of good habits and excellent conduct, and that his wonderful revelations were neither poetry nor sooth-sayings. This report did not satisfy him, and he decided to set out for Mecca and find out the facts for himself. On reaching Mecca, he went straight to the Haram. He did not know the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and he did not consider it advisable (under the circumstances prevailing at that time) to enquire about him from anybody. When it became dark, Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) noticed him and seeing in him a stranger, could not ignore him, as hospitality and care for the travelers, the poor and the strangers, were the Sahabah's second nature. He, therefore, took him to his place. He did not ask him about the purpose of his visit to Mecca, nor did Abuzar (Radhiyallaho anho) himself disclose it. Next day, he again went to the Haram and stayed there till nightfall without being able to learn who the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) was. In fact everybody knew that the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and his companions were being persecuted in Mecca, and Abuzar (Radhiyallaho anho) might have had misgivings about the result of his quest for the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam). Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) again took him home for the night, but again did not have any talk with him about the purpose of his visit to the city. On the third night, however, after Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) had entertained him as on the two previous nights, he asked him:

"Brother, what brings you to this town?" Before replying, Hadhrat Abuzar (Radhiyallaho anho) took an undertaking from Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) that he would speak the truth, and then he enquired from him about Muhammad (Sallallaho alaihe wasallam). Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho) replied:

"He is verily the Prophet of Allah. You accompany me tomorrow and I shall take you to him. But you have to be very careful, lest people come to know of your association with me, and you get into trouble. When on our way 1 apprehend some trouble, I shall get aside pretending some necessity or adjusting my shoes, and you will proceed ahead without stopping so that the people may not connect us."

The next day, he followed Hadhrat Ali (Radhiyallaho anho), who took him before the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam). In the very first meeting, he embraced Islam. The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam), fearing that the Qureysh might harm him, enjoined upon him not to make an open declaration of his Islam, and bade him to go back to his clan and return when Muslims had gained the upper hand. Hadhrat Abuzar (Radhiyallaho anho) replied:

"0, Prophet of Allah! By Him who is the master of my soul, I must go and recite the Kalimah in the midst of these unbelievers."

True to his word, he went straight to the Haram and, right in the midst of the crowd and at the pitch of his voice, recited Kalimah-e-Shahadat viz:
Kalimah-e-sahadat

" I bear witness that there is no god save Allah, and I bear witness that Muhammad
(Sallallahu alaihe wasallam) is the Prophet of Allah."

People fell upon him from all sides, and would have beaten him to death if Abbas (the Prophet's uncle, who had not till then embraced Islam) had not shielded him and saved him from death. Abbas said to the mob:

"Do you know who he is? He belongs to the Ghifar clan, who live on the way of our caravans to Syria. If he is killed, they will waylay us and we shall not be able to trade with that country."

This appealed to their prudence and they left him alone.

The next day, Hadhrat Abuzar (Radhiyallaho anho] repeated his perilous confession of Imaan and would have surely been beaten to death by the crowd, had not Abbas intervened once again and saved him for the second time.

The action of Hadhrat Abuzar (Radhiyallaho anho) was due to his extraordinary zeal for proclaiming Kalimah among the disbelievers, and the prohibition by the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) was due to the soft corner in his heart for Hadhrat Abuzar (Radhiyallaho anho), lest he be put to hardships that might prove too much for him. There is not the least shadow of disobedience in this episode. Since the Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) himself was undergoing all sorts of hardships in spreading the message of Islam, Abuzar (Radhiyallaho anho) also thought it fit to follow his example rather than to avail of his permission to avoid danger. It was this spirit of Sahabah that took them to the heights of material and spiritual progress. When a person once recited the Kalimah and entered the fold of Islam, no power on earth could turn him back and no oppression or tyranny could stop him from Tabligh.

"Hadhrat Abu Zar (Radhiyallaho anho) narrates that once the Holy Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) came out of his house. It was autumn and the leaves were falling off the trees. He caught hold of a branch of a tree and its leaves began to drop in large number.

At this he remarked, '0, Abu Zar! (Radhiyallaho anho) when a Muslim offers his salaat to please Allah, his sins are shed away from him just as these leaves are falling off this tree."

In autumn, usually, the leaves of the trees fall in large numbers, so much so that on some trees not a single leaf is left behind. The same is the effect of salaat performed with sincerity and devotion. All the sins of the person offering salaat are wiped off.

It should, however, be remembered that according to the verdict of the theologians, it is only the saghaa'ir (minor sins) that are forgiven by the performance of salaat and other services.

The kabaa'ir (major sins) are not pardoned without repentance. We should, therefore, in addition to saying salaat, be particular about doing taubah (repentance) and istighfaar (seeking forgiveness). Allah may, however, pardon, by His bountiful Grace, even the kabaa'ir of any person because of his salaat.